Pengertian Ikterus
Ikterus adalah keadaan dimana berubahnya warna kulit dan skelera pada mata karena adanya peningkatan bilirubin dalam darah.
Macam-Macam Ikterus:
- Ikterus Fisiologi
Ikterus fisiologi yaitu ikterus yang timbul pada hari ke 2-3 setelah bayi baru lahir.Ikterus ini tidak membahayakan. Kadar bilirubin dalam darah tidak melebihi kadar yang membahayakan bagi bayi yaitu 15 mg% pada bayi cukup bulan, dan 10 mg% pada bayi kurang bulan, tidak menimbulkan kecacatan bagi bayi.
Ikterus ini akan menghilang pada hari ketujuh dan tidak mempunyaidasar patologi.
- Ikterus Patologi
Hiperbilirubnemia yaitu kadar bilirubin yang dapat menimbulkan efek patologi.
Ikterus ini terjadi pada 24jam pertama.Peningkatan konsentrasi bilirubin 5 mg% atau lebih setiap 24 jam. Konsentrasi bilirubin serum sewaktu 10 mg% pada neonates kurang bulan dan 12,5 mg% pada neonates cukup bulan .Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatibilitas darah, defisiensi enzim G6PD dan sepsis).
Ikterus yang disertai berat lahir kurang dari 2000 gram, masa
gestasi kurang dari 36 minggu, asfiksia, hipoksia, sindrom gangguan
pernafasan, infeksi, hipoglikemia, hiperkapnia, hiperosmolalitas darah.
Kernikterus ialah ensefalopati bilirubin yang biasanya ditemukan pada neonates cukup bulan dengan ikterus berat (bilirubin indirek lebih dari 20 mg% dan disertai penyakit hemolitik berat dan pada autopsy ditemukan bercak bilirubin pada otak. Kernikterus secara klinis berbentuk kelainan saraf spastic yang terjadi secara kronik.
ETIOLOGI
Penyebab ikterus pada bayi baru lahir dapat berdiri sendiri ataupun dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain :
- Produksi yang berlebihan. Hal ini melebihi kemampuan bayi untuk mengeluarkannya, misalnya pada hemolisis
yang meningkat pada inkompatibilitas darah Rh, AB0, golongan darah
lain, defisiensi enzim G-6-PD, piruvat kinase, perdarahan tertutup dan
sepsis.
- Gangguan dalam proses uptake dan konjugasi akibat dari gangguan fungsi hepar. Gangguan ini dapat disebabkan oleh bilirubin, gangguan fungsi hepar, akibat asidosis, hipoksia dan infeksi atau tidak terdapatnya enzim glukoronil transferase (sindrom criggler-Najjar). Penyebab lain yaitu defisiensi protein. Protein Y dalam hepar yang berperan penting dalam “uptake” bilirubin ke sel hepar.
- Gangguan transportasi karena kurangnya albumin yang mengikat bilirubin.Bilirubin dalam darah terikat pada albumin kemudian diangkat ke hepar. Ikatan bilirubin dengan albumin ini dapat dipengaruhi oleh obat misalnya salisilat, sulfafurazole. Defisiensi albumin menyebabkan lebih banyak terdapatnya bilirubin indirek yang bebas dalam darah yang mudah melekat ke sel otak.
- Gangguan ekskresi yang terjadi akibat sumbatan dalam liver (karena
infeksi atau kerusakan sel liver). Gangguan ini dapat terjadi akibat
obstruksi dalam hepar atau diluar hepar. Kelainan diluar hepar biasanya
disebabkan oleh kelainan bawaan. Obstruksi dalam hepar biasanya akibat
infeksi atau kerusakan hepar oleh penyebab lain.
TANDA DAN GEJALA
Gejala hiperbilirubinemia dikelompokkan menjadi :
- Gejala akut : gejala yang dianggap sebagai fase pertama kernikterus pada neonatus adalah letargi, tidak mau minum dan hipotoni.
- Gejala kronik : tangisan yang melengking (high pitch cry) meliputi
hipertonus dan opistonus (bayi yang selamat biasanya menderita gejala
sisa berupa paralysis serebral dengan atetosis, gengguan pendengaran,
paralysis sebagian otot mata dan displasia dentalis).
Sedangkan menurut Handoko (2003) gejalanya adalah warna kuning (ikterik) pada kulit, membrane mukosa dan bagian putih (sclera) mata terlihat saat kadar bilirubin darah mencapai sekitar 40 µmol/l.
Gejala utamanya adalah kuning di kulit, konjungtiva dan mukosa. Disamping itu dapat pula disertai dengan gejala-gejala:
1. Dehidrasi.Asupan kalori tidak adekuat (misalnya: kurang minum, muntah-muntah)
2. Pucat. Sering berkaitan dengan anemia hemolitik (mis.
Ketidakcocokan golongan darah ABO, rhesus, defisiensi G6PD) atau
kehilangan darah ekstravaskular.
3. Trauma lahir.
Bruising, sefalhematom (peradarahan kepala), perdarahan tertutup lainnya.
4. Pletorik (penumpukan darah). Polisitemia, yang dapat disebabkan oleh keterlambatan memotong tali pusat.
5. Letargik dan gejala sepsis lainnya.
6. Petekiae (bintik merah di kulit). Sering dikaitkan dengan infeksi congenital, sepsis atau eritroblastosis.
7. Mikrosefali (ukuran kepala lebih kecil dari normal) Sering
berkaitan dengan anemia hemolitik, infeksi kongenital, penyakit hati
8. Hepatosplenomegali (pembesaran hati dan limpa)
9. Omfalitis (peradangan umbilikus)
10. Hipotiroidisme (defisiensi aktivitas tiroid)
11. Massa abdominal kanan (sering berkaitan dengan duktus koledokus)
12. Feses dempul disertai urin warna coklat. Pikirkan ke arah ikterus
obstruktif, selanjutnya konsultasikan ke bagian hepatologi.
PENILAIAN IKTERUS MENURUT KRAMER
Menurut Kramer, ikterus dimulai dari kepala, leher dan seterusnya.
Untuk penilaian ikterus, Kremer membagi tubuh bayi baru lahir dalam lima
bagian yang di mulai dari kepala dan leher, dada sampai pusat, pusat
bagian bawah sampai tumit, tumit pergelangan kaki dan bahu pergelangan
tangan dan kaki serta tangan termasuk telapak kaki dan telapak tangan.
Cara pemeriksaannya ialah dengan menekan jari telunjuk di tempat yang
tulangnya menonjol seperti tulang hidung, tulang dada, lutut, dan lain
lain. Kemudian penilaian kadar bilirubin dari tiap tiap nomor di
sesuaikan dengan angka rata-rata dalam gambar. Cara ini juga tidak
menunjukkan intensitas ikterus yang tepat di dalam plasma bayi baru
lahir. Nomor urut menunjukkan arah meluasnya ikterus.
Tabel. Derajat ikterus pada neonatus menurut kramer
|
Zona
|
Bagian tubuh yang kuning
|
Rata-rata serum bilirubin indirek
|
|
1
|
Kepala dan leher |
100
|
|
2
|
Pusat-leher |
150
|
|
3
|
Pusat-paha |
200
|
|
4
|
Lengan + tungkai |
250
|
|
5
|
Tangan + kaki |
>250
|
PATOFISIOLOGI
Peningkatan kadar bilirubin tubuh dapat terjadi pada beberapa
keadaan. Keadaan yang sering ditemukan adalah apabila terdapat
penambahan beban bilirubin pada sel hepar yang berlebihan. Hal ini dapat
ditemukan bila terdapat peningkatan penghancuran eritrosit,
polisitemia.
Gangguan pemecahan bilirubin plasma juga dapat menimbulkan
peningkatan kadar bilirubin tubuh. Hal ini dapat terjadi apabila kadar
protein Y dan Z berkurang, atau pada bayi hipoksia, asidosis. Keadaan
lain yang memperlihatkan peningkatan kadar bilirubin adalah apabila
ditemukan gangguan konjugasi hepar atau neonatus yang mengalami gangguan
ekskresi misalnya sumbatan saluran empedu.
Pada derajat tertentu bilirubin ini akan bersifat toksik dan merusak
jaringan tubuh. Toksisitas terutama ditemukan ada bilirubin indirek yang
bersifat sukar larut dalam air tapi mudah larut dalam lemak. Sifat ini
memungkinkan terjadinya efek patologis pada sel otak apabila bilirubin
tadi dapat menembus darah otak. Kelainan yang terjadi pada otak disebut
Kern ikterus. Pada umumnya dianggap bahwa kelainan pada syaraf pusat
tersebut mungkin akan timbul apabila kadar bilirubin indirek lebih dari
20 mg/dl.
Mudah tidaknya kadar bilirubin melewati darah otak ternyata tidak
hanya tergantung pada keadaan neonatus. Bilirubin indirek akan mudah
melewati darah otak apabila bayi terdapat keadaan Berat Badan Lahir
Rendah, hipoksia, dan hipolikemia.
KLASIFIKASI
Ikterus hemolitik disebabkan oleh lisis (penguraian) sel darah merah
yang berlebihan. Ikterus hemolitik merupakan penyebab prahepatik karena
terjadi akibat faktor-faktor yang tidak harus berkaitan dengan hati.
Ikterus hemolitik dapat terjadi pada destruksi sel darah merah yang
berlebihan dan hati tidak dapat mengkonjugasikan semua bilirubin yang
dihasilkan. Ikterus ini dapat dijumpai pada reaksi transfuse, atau lisis
sel darah merah akibat gangguan hemoglobin, misalnya anemia sel sabit
dan talasemia. Destruksi sel darah merah karena proses otoimun yang
dapat menyebabkan ikterus semolitik.
Pada ikterus hemolitik apapun sebabnya, sebagian bilirubin akan
terkonjugasi (disebut bilirubin bebas atau hiperbilirubinemia indirek)
akan meningkat.
Penurunan penyerapan dan konjugasi bilirubin oleh hati terjadi pada
disfungsi hepatosis dan disebut ikterus hepatoseluler. Disfungsi hati
dapat terjadi apabila hepatosit terinfeksi dan oleh virus, misalnya pada
hepatitis, apabila sel sel hati rusak akibat kanker atau sirosis.
Sebagian kelainan kongenital juga mempengaruhi kemampuan hati untuk
menangani bilirubin, Obat-obatan tertentu termasuk hormone steroid,
sebagian anti biotic dan anestetik halotan juga dapat mengganggu sel
hati. Apabila hati tidak dapat mengkonjugasikan bilirubin, kadar
bilirubin terkonjugasi akan meningkat sehingga timbul ikterus.
Sumbatan terhadap aliran empedu keluar hati atau duktus biliaris
disebut ikterus obstruktif. Ikterus obstruktif dianggap berasal
intrahepatik apabila disebabkan oleh sumbatan aliran empedu melintasi
duktus biliaris. Obstruksi intra hepatik dapat terjadi apabila duktus
biliaris tersumbat oleh batu empedu atau tumor.
Pada kedua jenis obstruksi tersebut, hati tetap mengkonjugasikan
bilirubin, tetapi bilirubin tidak dapat mencapai usus halus. Akibatnya
adalah penurunan atau tidak adanya ekskresi urobilinogen di tinja
sehingga tinja berwarna pekat. Bilirubin terkonjugasi tersebut masuk ke
aliran darah dan sebagian besar di ekskresikan melalui ginjal sehingga
urin berwarna gelap dan berbusa. Apabila obstruksi tersebut tidak di
atasi maka kanalikulus biliaris di hati akhirnya mengalami kongesti dan
rupture sehingga empedu tumpah ke limfe dan aliran darah.
PEMERIKSAAN LABORATORIUM / PENUNJANG
Metode
visual memiliki angka kesalahan yang tinggi, namun masih dapat
digunakan apabila tidak ada alat. Pemeriksaan ini sulit diterapkan pada
neonatus kulit berwarna, karena besarnya bias penilaian. Secara evidence
pemeriksaan metode visual tidak direkomendasikan, namun apabila
terdapat keterbatasan alat masih boleh digunakan untuk tujuan skrining
dan bayi dengan skrining positif segera dirujuk untuk diagnostik dan
tata laksana lebih lanjut.
WHO dalam panduannya menerangkan cara menentukan ikterus secara visual, sebagai berikut:
a) Pemeriksaan dilakukan dengan pencahayaan yang cukup (di siang hari
dengan cahaya matahari) karena ikterus bisa terlihat lebih parah bila
dilihat dengan pencahayaan buatan dan bisa tidak terlihat pada
pencahayaan yang kurang.
b) Tekan kulit bayi dengan lembut dengan jari untuk mengetahui warna di bawah kulit dan jaringan subkutan.
c) Tentukan keparahan ikterus berdasarkan umur bayi dan bagian tubuh yang tampak kuning.
Pemeriksaan bilirubin serum merupakan baku emas penegakan diagnosis
ikterus neonatorum serta untuk menentukan perlunya intervensi lebih
lanjut. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pelaksanaan
pemeriksaan serum bilirubin adalah tindakan ini merupakan tindakan
invasif yang dianggap dapat meningkatkan morbiditas neonatus. Umumnya
yang diperiksa adalah bilirubin total. Sampel serum harus dilindungi
dari cahaya (dengan aluminium foil).
Beberapa senter menyarankan pemeriksaan bilirubin direk, bila kadar bilirubin total > 20 mg/dL atau usia bayi > 2 minggu.
- Bilirubinometer Transkutan
Bilirubinometer adalah instrumen spektrofotometrik yang bekerja
dengan prinsip memanfaatkan bilirubin yang menyerap cahaya dengan
panjang gelombang 450 nm. Cahaya yang dipantulkan merupakan representasi
warna kulit neonatus yang sedang diperiksa.
Pemeriksaan bilirubin transkutan (TcB) dahulu menggunakan alat yang
amat dipengaruhi pigmen kulit. Saat ini, alat yang dipakai menggunakan
multiwavelength spectral reflectance yang tidak terpengaruh pigmen.
Pemeriksaan bilirubin transkutan dilakukan untuk tujuan skrining, bukan
untuk diagnosis.
sebuah studi observasional prospektif untuk mengetahui akurasi
pemeriksaan bilirubin transkutan (JM 102) dibandingkan dengan
pemeriksaan bilirubin serum (metode standar diazo). Penelitian ini
dilakukan di Inggris, melibatkan 303 bayi baru lahir dengan usia gestasi
>34 minggu. Pada penelitian ini hiperbilirubinemia dibatasi pada
konsentrasi bilirubin serum >14.4 mg/dL (249 umol/l). Dari penelitian
ini didapatkan bahwa pemeriksaan TcB dan Total Serum Bilirubin (TSB)
memiliki korelasi yang bermakna (n=303, r=0.76, p<0.0001),>
Umumnya pemeriksaan TcB dilakukan sebelum bayi pulang untuk tujuan
skrining. Hasil analisis menyatakan bahwa pemeriksaan bilirubin serum
ataupun transkutan secara rutin sebagai tindakan skrining sebelum bayi
dipulangkan tidak efektif dari segi biaya dalam mencegah terjadinya
ensefalopati hiperbilirubin.
- Pemeriksaan bilirubin bebas dan CO
Bilirubin bebas secara difusi dapat melewati sawar darah otak. Hal
ini menerangkan mengapa ensefalopati bilirubin dapat terjadi pada
konsentrasi bilirubin serum yang rendah.
Beberapa metode digunakan untuk mencoba mengukur kadar bilirubin
bebas. Salah satunya dengan metode oksidase-peroksidase. Prinsip cara
ini berdasarkan kecepatan reaksi oksidasi peroksidasi terhadap
bilirubin. Bilirubin menjadi substansi tidak berwarna. Dengan pendekatan
bilirubin bebas, tata laksana ikterus neonatorum akan lebih terarah.
Seperti telah diketahui bahwa pada pemecahan heme dihasilkan
bilirubin dan gas CO dalam jumlah yang ekuivalen. Berdasarkan hal ini,
maka pengukuran konsentrasi CO yang dikeluarkan melalui pernapasan dapat
digunakan sebagai indeks produksi bilirubin.
Tabel. Perkiraan Klinis Tingkat Keparahan Ikterus
|
Usia
|
Kuning terlihat pada
|
Tingkat keparahan ikterus
|
| Hari 1
Hari 2
Hari 3
|
Bagian tubuh manapun
Tengan dan tungkai *
Tangan dan kaki * |
Berat
|
* Bila kuning terlihat pada bagian tubuh manapun pada hari pertama
dan terlihat pada lengan, tungkai, tangan dan kaki pada hari kedua, maka
digolongkan sebagai ikterus sangat berat dan memerlukan terapi sinar
secepatnya. Tidak perlu menunggu hasil pemeriksaan kadar bilirubin serum
untuk memulai terapi sinar.
PENCEGAHAN
Ikterus dapat dicegah dan dihentikan peningkatannya dengan :
1. Pengawasan antenatal yang baik.
2. Menghindari obat yang dapat meningkatkan ikterus pada bayi pada
masa kehamilan dan kelahiran, misalnya sulfafurazole, novobiosin,
oksitosin dan lain-lain.
3. Pencegahan dan mengobati hipoksia pada janin dan neonatus.
4. Penggunaan fenobarbital pada ibu 1-2 hari sebelum partus.
5. Iluminasi yang baik pada bangsal bayi baru lahir.
6. Pemberian makanan yang dini.
7. Pencegahan infeksi
KOMPLIKASI
Terjadi
kernikterus yaitu kerusakan otak akibat perlangketan
bilirubin indirek pada otak. Pada kernikterus gejala klinik pada
permulaan tidak jelas antara lain : bayi tidak mau menghisap, letargi,
mata berputar-putar, gerakan tidak menentu (involuntary movements),
kejang tonus otot meninggi, leher kaku, dan akhirnya opistotonus.
PENATALAKSANAAN MEDIS
Ikterus fisiologis tidak memerlukan penanganan yang khusus, kecuali
pemberian minum sedini mungkin dengan jumlah cairan dan kalori yang
cukup. Pemberian minum sedini mungkin akan meningkatkan molitas khusus
dan juga menyebabkan bakteri di introduksi ke usus. Bakteri dapat
merubah bilirubin direct menjadi urobilin yang dapat di absorpsi
kembali. Dengan demikian, kadar bilirubin serum akan turun. Meletakkan
bayi di bawah sinar matahari selama 15-20 menit, ini di lakukan setiap
hari antara pukul 6.30 – 8.00. Selama ikterus masih terlihat, perawat
harus memperhatikan pemberian minum dengan jumlah cairan dan kalori yang
cukup dan pemantauan perkembangan ikterus. Apabila ikterus makin
meningkat intensitasnya, harus segera di catat dan di laporkan karena
mungkin di perlukan penanganan yang khusus.
Tindakan umum
- Memeriksa golongan darah ibu (Rh, ABO) dan lain lain pada waktu hamil
- Mencegah trauma lahir, pemberian obat pada ibu hamil atau bayi baru lahir yang dapat menimbulkan ikterus, infeksi dan dehidrasi
- Pemberian makanan dini dengan jumlah cairan dan kalori yang sesuai dengan kebutuhan bayi baru lahir
- Iluminasi yang cukup baik di tempat bayi di rawat.
- Pengobatan terhadap faktor penyebab bila di ketahui.
Tindakan khusus
Setiap bayi yang kuning harus di tangani menurut keadannya masing
masing. Bila kadar bilirubin serum bayi tinggi, sehingga di duga akan
terjadi kern ikterus, hiperbilirubenia tersebut harus di obati dengan
tindakan berikut:
- Pemberian fenobarbital, agar proses konjugasi bisa di
percepat serta mempermudah ekskresi. Pengobatan ini tidak begitu efektif
karena kadar bilirubin bayi dengan hiperbilirubinemia baru menurun
setelah 4-5 hari. Efek pemberian fenobarbital ini tampak jelas
bila di berikan kepada ibu hamil beberapa minggu sebelum persalinan,
segera sesudah bayi lahir atau kedua keadaan tersebut. Pemberian fenobarbital profilaksis tidak di anjurkan karena efek samping obat tersebut, seperti gangguan metabolik dan pernafasan, baik pada ibu maupun pada bayi.
- Memberi substrat yang kurang untuk transportasi atau konjugasi,
misalnya pemberian albumin untuk memikat bilirubin bebas. Albumin
biasanya di berikan sebelum transfusi tukar dikerjakan oleh karena
albumin akan mempercepat keluarnya bilirubin dari ekstra vaskuler ke
vaskuler, sehingga bilirubin yang di ikatnya lebih mudah di keluarkan
dengan tranfusi tukar.
- Melakukan dekomposisi bilirubin dengan fototerapi.
Fototerapi dapat digunakan sendiri atau dikombinasi dengan transfusi
pengganti untuk menurunkan bilirubin. Memaparkan neonatus pada cahaya
dengan intensitas yang tinggi akan menurunkan bilirubin dalam kulit.
Fototerapi menurunkan kadar bilirubin dengan cara memfasilitasi ekskresi
bilirubin tak terkonjugasi. Hal ini terjadi jika cahaya yang diabsorpsi
jaringan merubah bilirubin tak terkonjugasi menjadi dua isomer yang
disebut fotobilirubin. Fotobilirubin bergerak dari jaringan ke pembuluh
darah melalui mekanisme difusi. Di dalam darah fotobilirubin berikatan
dengan albumin dan di kirim ke hati. Fotobilirubin kemudian bergerak ke
empedu dan di ekskresikan kedalam duodenum untuk di buang bersama feses
tanpa proses konjugasi oleh hati. Hasil fotodegradasi terbentuk ketika
sinar mengoksidasi bilirubin dapat dikeluarkan melalui urine.
Fototerapi mempunyai peranan dalam pencegahan peningkatan kadar
bilirubin, tetapi tidak dapat mengubah penyebab kekuningan dan hemolisis
dapat menyebabkan anemia.
Secara umum fototerapi harus diberikan pada kadar bilirubin indirek
4-5 mg/dl. Noenatus yang sakit dengan berat badan kurang dari 1000 gram
harus difototerapi dengan konsentrasi bilirubin 5 mg/dl. Beberapa
ilmuwan mengarahkan untuk memberikan fototerapi profilaksasi pada 24 jam
pertama pada bayi resiko tinggi dan berat badan lahir rendah.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan terapi sinar ialah:
- lampu yang dipakai sebaiknya tidak digunakan lebih dari 500 jam,
untuk menghindari turunnya energy yang dihasilkan oleh lampu yang
digunakan.
- Pakaian bayi dibuka agar bagian tubuh dapat seluas mungkin terkena sinar.
- Kedua mata ditutup dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya
untuk mencegah kerusakan retina. Penutup mata dilepas saat pemberian
minum dan kunjungan orang tua untuk memberikan rangsang visual pada
neonates. Pemantauan iritasi mata dilakukan tiap 6 jam dengan membuka
penutup mata.
- Daerah kemaluan ditutup, dengan penutup yang dapat memantulkan cahaya untuk melindungi daerah kemaluan dari cahaya fototeraphy.
- Pada lampu diatur dengan jarak 20-30cm di atas tubuh bayi, untuk mendapatkan energi yang optimal.
- Posisi bayi diubah tiap 8 jam , agar tubuh mendapat penyinaran seluas mungkin.
- Suhu tubuh diukur 4-6 jam sekali atau sewaktu-waktu bila perlu.
- Pemasukan cairan dan minuman dan pengeluaran urine, feses, dan muntah diukur, dicatat dan dilakukan pemantauan tanda dehidrasi
- Hidrasi bayi diperhatikan, bila perlu konsumsi cairan ditingkatkan.
- Lamanya terapi sinar dicatat.
Apabila dalam evaluasi kadar bilirubin serum barada dalam batas
normal, terapi sinar dihentikan. Jika kadar bilirubin masih tetap atau
tidak banyak berubah, perlu dipikirkan adanya beberapa kemungkinan,
antara lain lampu yang tidak efektif atau bayi menderita dehidrasi,
hipoksia, infeksi, dan gangguan metabolisme.
Pemberian terapi sinar dapat menimbulkan efek samping. Namun, efek
samping tersebut bersifat sementara, yang dapat di cegah atau dapat
ditanggulangi dengan memperhatikan tata cara penggunaan terapi sinar dan
diikuti dengan pemantauan keadaan bayi secara berkelanjutan.
Kelainan yang mungkin timbul pada neonates yang mendapati terapi sinar adalah :
- Peningkatan kehilangan cairan yang tidak terukur.
- Energi cahaya fototerapi dapat meningkatkan suhu lingkungan dan
menyebabkan peningkatan penguapan melalui kulit. Terutama bayi premature
atau berat lahir sangat rendah. Keadaan ini dapat di antisipasi dengan
pemberian cairan tambahan.
- Frekuensi defekasi meningkat. Meningkatnya bilirubin indirect pada
usus akan meningkatkan pembentukan enzim lactase yang dapat meningkatkan
peristaltic usus. Pemberian susu dengan kadar laktosa rendah akan
mengurangi timbulnya diare.
- Timbul kelainan kulit di daerah muka badan dan ekstremitas, dan akan
segera hilang setelah terapi berhenti. Di laporkan pada beberapa bayi
terjadi “bronze baby syndrome”, hal ini terjadi karena tubuh
tidak mampu mengeluarkan dengan segera hasil terapi sinar. Perubahan
warna kulit ini bersifat sementara dan tidak mempengaruhi proses tumbuh
kembang bayi.
- Peningkatan suhu.
- Beberapa neonates yang mendapat terapi sinar, menunjukkan kenaikan
suhu tubuh, ini disebabkan karena suhu lingkungan yang meningkat atau
gangguan pengaturan suhu tubuh bayi.
- Kadang di temukan kelainan, seperti gangguan minum, letargi, dan iritabilitas. Ini bersifat sementara dan hilang sendirinya.
d. Transfusi Pengganti
Transfuse pengganti atau imediat didindikasikan adanya faktor-faktor :
1. Titer anti Rh lebih dari 1 : 16 pada ibu
2. Penyakit hemolisis berat pada bayi baru lahir
3. Penyakit hemolisis pada bayi saat lahir perdarahan atau 24 jam pertama
4. Kadar bilirubin direk labih besar 3,5 mg/dl di minggu pertama
5. Serum bilirubin indirek lebih dari 20 mg/dl pada 48 jam pertama
6. Hemoglobin kurang dari 12 gr/dl
7. Bayi pada resiko terjadi kern Ikterus
Transfusi pengganti digunakan untuk:
1. Mengatasi anemia sel darah merah yang tidak susceptible (rentan) terhadap sel darah merah terhadap antibody maternal
2. Menghilangkan sel darah merah untuk yang tersensitisasi (kepekaan)
3. Menghilangkan serum bilirubin
4. Meningkatkan albumin bebas bilirubin dan meningkatkan keterikatan dangan bilirubin
Pada Rh Inkomptabilitas diperlukan transfuse darah golongan O segera
(kurang dari 2 hari), Rh negative whole blood. Darah yang dipilih tidak
mengandung antigen A dan antigen B. Setiap 4 -8 jam kadar bilirubin
harus di cek. Hemoglobin harus diperiksa setiap hari sampai stabil.